Recent post
Sholat adalah ibadah terpenting bagi
seorang muslim.Sholat menjadi tolak ukur kesalehan seseorang, bahkan
sholat merupakan amal kunci bagi segala amal lainnya. Meski demikian
jarang sekali orang mengerti bahwa masing-masing waktu sholat yang lima
itu mengandung hikmah dan memiliki sejarah masing-masing.
Demikianlah semua hikmah yang melatar belakangi lima sholat fardhu yang diwajibkan kepada semua orang muslim hingga kini sesuai dengan tuntunan syariah.
(Dinukil dari kitab Sulamunnajah karya Syaikh Nawawi atau nama lengkat Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar Ra tanara Al-Bantani Al-Jawi Al-Indunisi)
Hadits tentang Sholat Wajib 5 Waktu
Ketika bayang-bayang tampak telah mulai lebih panjang dari sosok asli benda-benda, Malaikat Jibril As berkata : Bangun dan lakukan sholat lagi.
Demi mendengar perintah ini pun, Rasulullah Saw kemudian segera melakukan sholat Ashar ketika panjang bayangan segala benda melebihi panjang benda-benda. Kemudian waktu Maghrib menjelang dan Malaikat Jibril As berkata : Bangun dan lakukan sholat. Maka beliau Nabi Muhammad Saw melakukan sholat Maghrib ketika matahari terbenam.
Kemudian waktu Isya` menjelang dan Malaikat Jibril As berkata : Bangun dan lakukan sholat. Maka Nabi Muhammad Saw pun segera melakukan sholat Isya` ketika syafaq mega senja merah menghilang. Waktu sholat Isya’ ini menjadi waktu sholat terpanjang karena Malaikat Jibril As baru membangunkan kembali Nabi Muhammad Saw ketika fajar kedua telah mulai menjelang.
Kemudian waktu Subuh menjelang dan Malaikat Jibril As berkata : Bangunlah wahai Rasulullah dan lakukanlah sholat. Maka Rasulullah Saw melakukan sholat Subuh ketika waktu fajar menjelang.
(HR. Imam Ahmad dan Imam Nasa’i dan Imam Tirmidzi)
Tentang waktu sholat Subuh ini Abu Hurairah Ra meriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah Saw bersabda : Orang yang mendapatkan satu rakaat dari shalat subuh sebelum terbit matahari, maka dia termasuk orang yang mendapatkan sholat subuh. Dan orang yang mendapatkan satu rakaat sholat Ashar sebelum matahari terbenam, maka dia termasuk mendapatkan sholat Ashar. (HR Imam Muslim)
Sholat Subuh adalah sholat pertama kali
yang dilakukan oleh Nabi Adam As, dua raka'at Subuh dijalankan oleh
Nabi Adam As di bumi setelah diturunkan dari surga.
Waktu itu pertama kalinya Nabi Adam As melihat kegelapan, begitu
gelapnya sehingga ia merasakan ketakutan yang amat sangat. Namun
kemudian kegelapan itu secara lamban mulai sirna mengusir rasa takut,
dan perlahan terbitlah terang. Itulah pergantian waktu malam menuju
pagi. Oleh karenanya, dua raka'at Subuh dilaksanakan sebagai rasa syukur
atas sirnanya kegelapan pengharapan atas datangnya kecerahan.
Nabi Ibrahim As adalah orang pertama
yang melaksanakan sholat Dhuhur, Empat raka’at dhuhur dilaksanakan,
ketika Allah Swt menggantikan Nabi Ismail As yang rencananya disembelih
sebagai Qurban dengan seekor domba. Ini terjadi tatkala siang, tatkala
matahari bergeser sedikit dari titik tengahnya. Empat raka’at itu
menunjukkan beberapa perasaan Nabi Ibrahim, satu raka’at adalah penanda
kesyukuran atas digantikannya Nabi Ismail As. Satu raka’at karena
kegembiraan, satu raka’at untuk mencari keridloan Allah Swt dan satu
raka’at lagi sebagai rasa syukur atas domba pemberian Allah Swt.
Kemudian riwayat sholat Ashar
berhubungan erat dengan Nabi Yunus As. ketika diselamatkan oleh Allah
Swt dari perut ikan Hut. Hut adalah nama ikan yang menelan Nabi Yunus
mengarungi lautan. Dikisahkan, bahwa bentuk ikan hut hampir menyerupai
burung, namun tanpa sayap. Ketika di dalam perut hut itu Nabi Yunus As
merasakan empat macam kegelapan, gelap karena kekhawatiran hasya, gelap
di dalam air, gelap malam dan gelap di dalam perut ikan. Demikianlah
Nabi Yunus As keluar ketika matahari mulai condong ke barat dan sholat
lah beliau empat raka’at sebagai penanda terbebas dari empat macam
kegelapan itu.
Sedangkan tiga raka’at sholat Maghrib mempunyai sejarahnya sendiri yang tidak bisa dilepaskan dari kisah
Nabi Isa As ketika berhasil keluar dari kaumnya di penghujung senja.
Tiga raka’at sangat bermakna bagi Nabi Isa As. Satu rakaat menandai
perjuangan beliau menegakkan tauhid dan menafikan semua bentuk
sesembahan kecuali Allah. Satu raka’at untuk menafikan hinaan dan
tuduhan kaumnya atas ibundanya yang melahirkannya tanpa ayah. Dan ini
sekaligus menunjukkan betapa ketuhanan itu hanya milik Allah semata yang
Maha Kuasa, inilah makna satu rakaat yang terakhir.
Dihilangkannya empat kesedihan yang menimpa Nabi Musa As oleh Allah
Swt ketika meninggalkan kota Madyan menjadi sejarah ditetapkannya sholat
Isya empat rakaat. Tercatat empat kesedihan itu berhubungan dengan
istrinya, saudaranya yang bernama Nabi Harun As, anak-anaknya, dan
kesedihan karena kekuasaan Fir’aun. Dan ketika semua kesedihan itu
diangkat oleh Allah Swt di waktu malam, Nabi Musa As pun melaksanakan
sholat empat rakaat sebagai rasa syukur atas segalanya.Demikianlah semua hikmah yang melatar belakangi lima sholat fardhu yang diwajibkan kepada semua orang muslim hingga kini sesuai dengan tuntunan syariah.
(Dinukil dari kitab Sulamunnajah karya Syaikh Nawawi atau nama lengkat Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar Ra tanara Al-Bantani Al-Jawi Al-Indunisi)
Hadits tentang Sholat Wajib 5 Waktu
Jabir bin Abdullah Ra menceritakan
bahwa pada suatu siang sebelum Matahari benar-benar di atas titik atas
tertinggi, Rasulullah Nabi Muhammad Saw kembali didatangi oleh Malaikat
Jibril As seraya berkata kepadanya : Bangunlah Wahai Rasulullah dan
lakukan sholat.
Mendengar panggilan ini, Maka Nabi Muhammad Saw pun segera melakukan sholat Dzuhur ketika Matahari telah mulai tergelincir.Ketika bayang-bayang tampak telah mulai lebih panjang dari sosok asli benda-benda, Malaikat Jibril As berkata : Bangun dan lakukan sholat lagi.
Demi mendengar perintah ini pun, Rasulullah Saw kemudian segera melakukan sholat Ashar ketika panjang bayangan segala benda melebihi panjang benda-benda. Kemudian waktu Maghrib menjelang dan Malaikat Jibril As berkata : Bangun dan lakukan sholat. Maka beliau Nabi Muhammad Saw melakukan sholat Maghrib ketika matahari terbenam.
Kemudian waktu Isya` menjelang dan Malaikat Jibril As berkata : Bangun dan lakukan sholat. Maka Nabi Muhammad Saw pun segera melakukan sholat Isya` ketika syafaq mega senja merah menghilang. Waktu sholat Isya’ ini menjadi waktu sholat terpanjang karena Malaikat Jibril As baru membangunkan kembali Nabi Muhammad Saw ketika fajar kedua telah mulai menjelang.
Kemudian waktu Subuh menjelang dan Malaikat Jibril As berkata : Bangunlah wahai Rasulullah dan lakukanlah sholat. Maka Rasulullah Saw melakukan sholat Subuh ketika waktu fajar menjelang.
(HR. Imam Ahmad dan Imam Nasa’i dan Imam Tirmidzi)
Tentang waktu sholat Subuh ini Abu Hurairah Ra meriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah Saw bersabda : Orang yang mendapatkan satu rakaat dari shalat subuh sebelum terbit matahari, maka dia termasuk orang yang mendapatkan sholat subuh. Dan orang yang mendapatkan satu rakaat sholat Ashar sebelum matahari terbenam, maka dia termasuk mendapatkan sholat Ashar. (HR Imam Muslim)
Sumber :http://www.sarkub.com/sejarah-shalat-5-waktu/
Keutamaan Shalat
Shalat memiliki keutamaan yang sangat besar di dalam Alquran maupun As-Sunnah. Oleh karena itu, shalat adalah sebuah kebutuhan yang sangat mendasar bagi seorang hamba dan sama sekali bukan sebagai beban yang memberatkannya, bahkan shalat hakikatnya sebuah aktifitas yang sangat menyenangkan hati seorang hamba.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperumpamakan shalat dengan perumpamaan yang sangat indah, yang menunjukkan bahwa ia adalah sebuah kebutuhan dan kegembiraan hati orang-orang yang beriman, karena dengannya Allah menghapuskan dosa hamba-Nya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Arti Sholat
ARTI SHALAT
Dalam bahasa Arab, kata ash-shalat berarti berdoa memohon kebaikan. Allah Ta’ala berfirman:
Dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. (Q.S. at-Taubah: 103).
Maksudnya, berdoalah kepada Allah untuk mereka agar mendapat ampunan.
Adapun menurut istilah para Fuqaha’, kata ash-Shalat berarti:
perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan tertentu yang dimulai dengan
takbir dan diakhiri dengan salam. Disebut shalat, karena
perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan itu memuat doa, dan juga
karena doa merupakan bahagian terbesar di dalamnya. Jadi, semacam
memberi nama keseluruhan dengan nama dari sebahagian.
HIKMAH SHALAT
Dalam shalat terdapat banyak hikmah-hikmah dan rahasia-rahasia, yang kami ringkaskan di sini sebagai berikut:
1. Menyadakan manusia tentang hakekat dirinya, yaitu bahwa dirinya
adalah seorang hamba yang dikuasai Allah ‘Azza Wa Jalla. Selanjutnya,
dia akan senantiasa mengingat hakekat tersebut. Yakni, setiap kali dia
melupakan hakekat itu dikarenakan oleh kesibukan-kesibukan dunia dan
perhubungan-perhubungannya dengan orang lain, maka datanglah shalat
mengingatkannya bahwa dia adalah hamba yang dikuasai Allah ‘Azza Wa
Jalla.
2. Menanamkan dalam jiwa manusia, bahwa tiada yang memberi pertolongan
dan kenikmatan yang hakiki kecuali Allah ‘Azza Wa Jalla, sekalipun di
dunia dia melihat perantara-perantara dan sebab-sebab yang banyak, yang
secara lahiriyah kelihatannya merekalah yang memberi pertolongan dan
kenikmatan, akan tetapi hakekatnya Allah-lah yang menundukkan mereka
seluruhnya bagi manusia.
Jadi, setiap kali manusia lalai dan membiarkan dirinya hanyut bersama
perantara-perantara duniawi yang lahiriyah itu, maka datanglah shalat
mengingatkannya bahwa Penyebab Yang Hakiki adalah Allah. Dia-lah semata
yang memberi pertolongan dan kenikmatan, memberi bahaya dan manfaat, dan
Dia pula Yang menghidupkan dan mematikan.
3. Dari shalat itu manusia akan memperoleh kesempatan bertaubat di mana
ia menyatakan taubatnya atas doa-doa yang telah ia lakukan. Karena
setiap saat, siang dan malam, manusia senantiasa berkesempatan melakukan
kemaksiatan-kemaksiatan yang dia sadari ataupun tidak.
Dengan demikian, shalat yang ia lakukan berkali-kali dari waktu ke
waktu, akan merupakan pembersih baginya dari kemaksiatan-kemaksiatan dan
dosa-dosa tersebut. Dalam hal ini Rasulullah SAW pernah menerangkan
dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim (668), dari Jabir bin
Abdullah RA, dia berkta: Sabda Rasulullah SAW:
مَثَلُا لصَّلَوَاتِ الْخَمْسِكَََ
مَثَلِ نَهْرٍ جَارٍغَمْرٍعَلَى بِاَبِ احَدِكُمْ ٬يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ
يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ ٬قَالَ׃ قَالَ اْلحَسَنُ׃ وَمَا يُبْقِى ذَلِكَ
مِنَ الدَّرَنِ؟
Perumpamaan shalat lima waktu adalah seperti sungia yang mengalir deras
di pintu rumah salah seorang dari kamu sekalian. Ia mandi dari sungai
itu setiap hari lima kali.
Jabir berkata: Kata al-Hasan: “Apakah itu akan meninggalkan kotoran?”
Ghamrin: banyak airnya.
Ad-Daran: kotoran.
Dan di sini, yang dimaksud kotoran ma’nawi, yaitu dosa, sebagaimana
ditunjukkan oleh riwayat Abu Hurairah RA, menurut Imam Muslim pula
(667):
فَذَٓٓلِكَ مَثَلُا لصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمحُوْاﷲُ بِهِنَّ الْخَطَايَا
Demikian itulah perumpamaan shalat lima waktu. Dengan shalat-shalat itu Allah menghapuskan dosa-dosa.
4. Shalat merupakan makanan yang tiada habis-habisnya bagi akidah
keimanan kepada Allah Ta’ala dalam hati manusia. Karena hal-hal yang
melalaikan di dunia ini serta godaan-godaan syetan, biasanya dapat
membikin manusia melupakan akidah tersebut, sekalipun telah tertanam
dalam hatinya. Dan apabila dia terus-terusan lupa dikarenakan telah
cenderung kepada godaan hawa nafsu dan syahwat dan hal-hal lain
sejenisnya, maka lupa akan berubah menjadi keingkaran dan pembangkangan,
seperti halnya sebatang pohon yang tidak disiram air lagi. Suatu saat
ia akan layu, kemudian dari layu menjadi mati, dan berubahlah batang
pohon itu menjadi kayu bakar yang kering. Akan tetapi, apabila seorang
muslim senantiasa melakukan shalat, maka shalatnya itu akan menjadi
makanan bagi imannya, sedang dunia dengan segala godaannya takkan mampu
lagi melemahkan iman yang ada dalam hatinya ataupun mematikannya.
sumber : http://islamiwiki.blogspot.co.id/2012/08/hikmah-arti-dan-pengertian-sholat.html#.WCrumTVJ0qE
BERDIRI
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan sholat fardhu atau sunnah berdiri karena memenuhi perintah Allah dalam QS. Al Baqarah : 238. Apabila bepergian, beliau melakukan sholat sunnah di atas kendaraannya. Beliau mengajarkan kepada umatnya agar melakukan sholat khauf dengan berjalan kaki atau berkendaraan.
MENGHADAP KA’BAH
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bila berdiri untuk sholat fardhu atau sholat sunnah, beliau menghadap Ka’bah. Beliau memerintahkan berbuat demikian sebagaimana sabdanya kepada orang yang sholatnya salah:
Pada waktu sholat subuh kaum muslim yang tinggal di Quba’ kedatangan seorang utusan Rasulullah untuk menyampaikan berita, ujarnya,
MENGHADAP SUTRAH
Sutrah (pembatas yang berada di depan orang sholat) dalam sholat menjadi keharusan imam dan orang yang sholat sendirian, sekalipun di masjid besar, demikian pendapat Ibnu Hani’ dalam Kitab Masa’il, dari Imam Ahmad.Beliau mengatakan, “Pada suatu hari saya sholat tanpa memasang sutrah di depan saya, padahal saya melakukan sholat di dalam masjid kami, Imam Ahmad melihat kejadian ini, lalu berkata kepada saya, ‘Pasanglah sesuatu sebagai sutrahmu!’ Kemudian aku memasang orang untuk menjadi sutrah.”Syaikh Al Albani mengatakan, “Kejadian ini merupakan isyarat dari Imam Ahmad bahwa orang yang sholat di masjid besar atau masjid kecil tetap berkewajiban memasang sutrah di depannya.”Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
NIAT
Niat berarti menyengaja untuk sholat, menghambakan diri kepada Allah Ta’ala semata, serta menguatkannya dalam hati.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Dan tidaklah disebutkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak pula dari salah seorang sahabatnya bahwa niat itu dilafadzkan.
Abu Dawud bertanya kepada Imam Ahmad. Dia berkata, “Apakah orang sholat mengatakan sesuatu sebelum dia takbir?” Imam Ahmad menjawab, “Tidak.” (Masaail al Imam Ahmad hal 31 dan Majmuu’ al Fataawaa XXII/28).
AsSuyuthi berkata, “Yang termasuk perbuatan bid’ah adalah was-was (selalu ragu) sewaktu berniat sholat. Hal itu tidak pernah diperbuat oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maupun para shahabat beliau. Mereka dulu tidak pernah melafadzkan niat sholat sedikitpun selain hanya lafadz takbir.”
Asy Syafi’i berkata, “Was-was dalam niat sholat dan dalam thaharah termasuk kebodohan terhadap syariat atau membingungkan akal.” (Lihat al Amr bi al Itbaa’ wa al Nahy ‘an al Ibtidaa’).
TAKBIRATUL IHROM
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu memulai sholatnya (dilakukan hanya sekali ketika hendak memulai suatu sholat) dengan takbiratul ihrom yakni mengucapkan Allahu Akbar (
)
di awal sholat dan beliau pun pernah memerintahkan seperti itu
kepada orang yang sholatnya salah. Beliau bersabda kepada orang itu:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan sholat fardhu atau sunnah berdiri karena memenuhi perintah Allah dalam QS. Al Baqarah : 238. Apabila bepergian, beliau melakukan sholat sunnah di atas kendaraannya. Beliau mengajarkan kepada umatnya agar melakukan sholat khauf dengan berjalan kaki atau berkendaraan.
“Peliharalah semua sholat dan sholat wustha dan berdirilah dengan tenang karena Allah. Jika kamu dalam ketakutan, sholatlah dengan berjalan kaki atau berkendaraan. Jika kamu dalam keadaa aman, ingatlah kepada Allah dengan cara yang telah diajarkan kepada kamu yang mana sebelumnya kamu tidak mengetahui (cara tersebut).” (QS. Al Baqarah : 238).
MENGHADAP KA’BAH
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bila berdiri untuk sholat fardhu atau sholat sunnah, beliau menghadap Ka’bah. Beliau memerintahkan berbuat demikian sebagaimana sabdanya kepada orang yang sholatnya salah:
“Bila engkau berdiri untuk sholat, sempurnakanlah wudhu’mu, kemudian menghadaplah ke kiblat, lalu bertakbirlah.”Tentang hal ini telah turun pula firman Allah dalam Surah Al Baqarah : 115:
(HR. Bukhari, Muslim dan Siraj).
“Kemana saja kamu menghadapkan muka, disana ada wajah Allah.”Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah sholat menghadap Baitul Maqdis, hal ini terjadi sebelum turunnya firman Allah:
“Kami telah melihat kamu menengadahkan kepalamu ke langit. Kami palingkan kamu ke kiblat yang kamu inginkan. Oleh karena itu, hadapkanlah wajahmu ke sebagian arah Masjidil Haram.” (QS. Al Baqarah : 144).Setelah ayat ini turun beliau sholat menghadap Ka’bah.
Pada waktu sholat subuh kaum muslim yang tinggal di Quba’ kedatangan seorang utusan Rasulullah untuk menyampaikan berita, ujarnya,
“Sesungguhnya semalam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mendapat wahyu, beliau disuruh menghadap Ka’bah. Oleh karena itu, (hendaklah) kalian menghadap ke sana.” Pada saat itu mereka tengah menghadap ke Syam (Baitul Maqdis). Mereka lalu berputar (imam mereka memutar haluan sehingga ia mengimami mereka menghadap kiblat). (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Siraj, Thabrani, dan Ibnu Sa’ad. Baca Kitab Al Irwa’, hadits No. 290).
MENGHADAP SUTRAH
Sutrah (pembatas yang berada di depan orang sholat) dalam sholat menjadi keharusan imam dan orang yang sholat sendirian, sekalipun di masjid besar, demikian pendapat Ibnu Hani’ dalam Kitab Masa’il, dari Imam Ahmad.Beliau mengatakan, “Pada suatu hari saya sholat tanpa memasang sutrah di depan saya, padahal saya melakukan sholat di dalam masjid kami, Imam Ahmad melihat kejadian ini, lalu berkata kepada saya, ‘Pasanglah sesuatu sebagai sutrahmu!’ Kemudian aku memasang orang untuk menjadi sutrah.”Syaikh Al Albani mengatakan, “Kejadian ini merupakan isyarat dari Imam Ahmad bahwa orang yang sholat di masjid besar atau masjid kecil tetap berkewajiban memasang sutrah di depannya.”Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Janganlah kamu sholat tanpa menghadap sutrah dan janganlah engkau membiarkan seseorang lewat di hadapan kamu (tanpa engkau cegah). Jika dia terus memaksa lewat di depanmu, bunuhlah dia karena dia ditemani oleh setan.”Beliau juga bersabda:
(HR. Ibnu Khuzaimah dengan sanad yang jayyid (baik)).
“Bila seseorang di antara kamu sholat menghadap sutrah, hendaklah dia mendekati sutrahnya sehingga setan tidak dapat memutus sholatnya.”Dan hendaklah sutrah itu diletakkan tidak terlalu jauh dari tempat kita berdiri sholat sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
(HR. Abu Dawud, Al Bazzar dan Hakim. Disahkan oleh Hakim, disetujui olah Dzahabi dan Nawawi).
“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri shalat dekat sutrah (pembatas) yang jarak antara beliau dengan pembatas di depannya 3 hasta.”Adapun yang dapat dijadikan sutrah antara lain: tiang masjid, tombak yang ditancapkan ke tanah, hewan tunggangan, pelana, tiang setinggi pelana, pohon, tempat tidur, dinding dan lain-lain yang semisalnya, sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
(HR. Bukhari dan Ahmad).
NIAT
Niat berarti menyengaja untuk sholat, menghambakan diri kepada Allah Ta’ala semata, serta menguatkannya dalam hati.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Semua amal tergantung pada niatnya dan setiap orang akan mendapat (balasan) sesuai dengan niatnya.”Niat tidak dilafadzkan
(HR. Bukhari, Muslim dan lain-lain. Baca Al Irwa’, hadits no. 22).
Dan tidaklah disebutkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak pula dari salah seorang sahabatnya bahwa niat itu dilafadzkan.
Abu Dawud bertanya kepada Imam Ahmad. Dia berkata, “Apakah orang sholat mengatakan sesuatu sebelum dia takbir?” Imam Ahmad menjawab, “Tidak.” (Masaail al Imam Ahmad hal 31 dan Majmuu’ al Fataawaa XXII/28).
AsSuyuthi berkata, “Yang termasuk perbuatan bid’ah adalah was-was (selalu ragu) sewaktu berniat sholat. Hal itu tidak pernah diperbuat oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maupun para shahabat beliau. Mereka dulu tidak pernah melafadzkan niat sholat sedikitpun selain hanya lafadz takbir.”
Asy Syafi’i berkata, “Was-was dalam niat sholat dan dalam thaharah termasuk kebodohan terhadap syariat atau membingungkan akal.” (Lihat al Amr bi al Itbaa’ wa al Nahy ‘an al Ibtidaa’).
TAKBIRATUL IHROM
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu memulai sholatnya (dilakukan hanya sekali ketika hendak memulai suatu sholat) dengan takbiratul ihrom yakni mengucapkan Allahu Akbar (
)
di awal sholat dan beliau pun pernah memerintahkan seperti itu
kepada orang yang sholatnya salah. Beliau bersabda kepada orang itu:“Sesungguhnya sholat seseorang tidak sempurna sebelum dia berwudhu’ dan melakukan wudhu’ sesuai ketentuannya, kemudian ia mengucapkan Allahu Akbar.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
(Hadits diriwayatkan oleh Al Imam Thabrani dengan sanad shahih).
“Apabila engkau hendak mengerjakan sholat, maka sempurnakanlah wudhu’mu terlebih dahulu kemudian menghadaplah ke arah kiblat, lalu ucapkanlah takbiratul ihrom.”
Navigation